Rabu, 13 Januari 2016

Berpikir Kritis Dalam Setiap Proses Keperawatan

Diposting oleh Ranie di 22.19 0 komentar


Saat perawat bertemu dengan klien, perawat akan selalu menggunakan pemikiran. Misalnya, menggunakan pemikiran untuk mengumpulkan data dan membuat kesimpulan. Membuat kesimpulan, perawat kemudian menerapkan problem solving dengan melakukan sesuatu pemecahan masalah guna memenuhi kebutuhan dasar klien.Penerapan berpikir kritis dalam proses keperawatan diintregasikan kedalam tahap-tahap dalam proses keperawatan,dimana tahap-tahap yang digunakan adalah pengkajian rumusan diagnosis,perencanaan,pelaksanaan,dan evaluasi keperawatan.
1.Berpikir kritis dalam tahap pengkajian dan Diagnosis
    Berpikir kritis pada tahap pengkajian adalah proses pemahaman tentang informasi apa yang dikumpulkan, metode pengumpulan data yang akan dilakukan, berpikir tentang kesesuaian informasi, dan membuat suatu kesimpulan tentang respon klien terhadap kondisi kliennya.
Perumusan masalah keperawatan merupakan kesimpulan dari hasil pengkajian dan mengandung dua kategori mendasar, yaitu kekuatan dan perhatian terhadap masalah kesehatan klien. Perhatian terhadap masalah meliputi kemampuan perawat untuk mengatasi masalah secara mandiri, dan perlunya keterlibatan profesi lain dan bekerja sama secara intradisiplin, serta perlu/ tidaknya perawatan klien yang harus dirujuk ke tenaga kesehatan lain. Dengan demikian, berpikir kritis pada tahap pengkajian meliputi kegiatan mengumpulkan data dan validasi.
Perumusan diagnosis keperawatan merupakan tahap pengambilan keputusan yang paling kritis, karena itu, perlu dilatih sehingga lebih tajam dalam mengidentifikasi masalah.
2.Berpikir Kritis dalam tahap perencanaan
   Berpikir dalam perencanaan berarti menggunakan pengetahuan untuk mengembangkan hasil yang diharapkan. Selain itu juga memerlukan keterampilan guna mensintetis ilmu yang dimiliki untuk memilih tindakan yang tepat. Perencanaan asuhan keperawatan biasanya ditulis berisikan dimana dan bagaimana menolong klien berdasarkan responsnya terhadap kondisi penyakit. Bekerja dengan klien untuk memecahkan masalah yang dihadapinya adalah hal yang paling prioritas, begitu juga mengembangkan tujuan perawatan dan bekerja sama dalam pencapaian tujuannya.
3.Berpikir Kritis dalam tahap Implementasi
   Berpikir kritis pada tahap implementasi tindakan keperawatan adalah keterampilan dalam menguji hipotesis, karena tindakan keperawatan adalah tindakan nyata yang menentukan tingkat keberhasilan untuk mencapai tujuan. Bekerja melalui aktivitas khusus, yaitu asuhan keperawatan untuk membantu mencapai tujuan dalam perencanaan keperawatan, akan selalu menggunakan pikiran tentang apa yang harus dilakukan, kapan, dimana, mengapa, dan bagaimana intervensi keperawatan itu dilakukan.
4.Berpikir Kritis dalam Tahap Evaluasi
   Berpikir kritis dalam tahap evaluasi adalah mengkaji efektivitas tindakan di mana perawat harus dapat mengambil keputusan tentang pemenuhan kebutuhan dasar klien, dan memutuskan apakah tindakan keperawatan perlu diulang. Berpikir dan kumpulkan informasi tentang respons klien setelah beberapa tindakan keperawatan dilakukan. Bekerja sama dengan klien dalam rangka evaluasi tindakan keperawatan adalah sangat penting. Berpikir kritis dalam tahap evaluasi ini dapat evaluasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan model konsep total recall.
    
















Daftar Pustaka
Adam, M.H., J.G. Whitlow,L.M. Stover,dan K.W. Johnson,1996. “Critical Thinking as An Education Outcome : An Evaluation of Current Tools of Measurement”, Nurse Education,21 (3),23-32. 

Pengukur Tekanan Darah

Diposting oleh Ranie di 22.15 0 komentar

         Tekanan darah merupakan kekuatan lateral pada dinding arteri oleh darah yang di dorong dengan tekanan dari jantung. Tekanan sistemik atau arteri darah, tekanan darah dalam system arteri tubuh adalah indicator yang baik tentang kesehatan kardiovaskular. Aliran darah mengalir pada system sirkulasi karena perubahan tekanan. Darah mengalir dari daerah yang tekanannya tinggi ke daerah yang tekanannya rendah. Kontraksi jantung mendorong darah dengan tekanan tinggi ke aorta. Puncak dari tekanan maksimum saat ejeksi terjadi adalah tekanan darah sistolik. Pada saat ventrikel relaks, darah yang tetap dalam arteri menimbulkan tekanan diastolic atau minimum. Tekanan distolik adalah tekanan minimal yang mendesak dinding arteri setiap waktu.
             Dalam perosesnya perubahan tekanan darah di pengaruhi oleh beberapa faktor:
1.Tolakan perifer
             Tolakan perifer merupakan system peredaaran darah yang memiliki system tekanan tertinggi (arteria) dan system tekanan terendah (pembuluh kapiler dan vena) di antara keduanya terdapat arteriola dan pembuluh otot yang sangat halus.
2.Gerakan memompa oleh jantung
Semakin banyak darah yang di pompa ke dalam arteria menyebabkan arteria akan lebih menggelembung dan mengakibatkan bertambahnya tekanan darah , demikian pula sebaliknya.
3.Volume darah
    Bertambahnya darah menyebabkan besarnya tekanan pada arteri.
4.Kekentalan darah
    Kekentalan atau viskositas ini tergantung pada perbandingan sel darah merah dengan plasma. Semakin kental darah menyebabkan semakin tinggi tekanan dan semakin banyak tenaga yang di perlukan.
     Nilai tekanan darah merupakan indikator untuk menilai system kardiovaskular bersamaan dengan pemeriksaan nadi. Pemeriksaan tekanan darah dapat diukur dengan dua metode, yaitu metode langsung: metode yang menggunakan kanula atau jarum yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah yang dihubungkan dengan manometer. Metode ini merupakan cara yang paling tepat untuk menentukan tekanan darah, tetapi memerlukan persyaratan dan keahlian khusus; metode tidak langsung: metode yang menggunakan sfig momanometer. Pengukuran tidak langsung ini menggunakan dua cara, yaitu palpasi yang mengukur tekanan sistolik dan auskultasi yang dapat mengukur tekanan sistolik dan diastolik dan cara ini memerlukan alat stetoskop.
Tujuan
Mengetahui nilai tekanan darah.
Alat dan bahan
1. Sfigmomanometer (tensimeter) yang terdiri dari:
Manometer air raska + klep penutup dan pembuka manset udara, slang karet. Pompa udara dari karet + sekrup pembuka dan penutup
2.Stetoskop
3.Buku catatan tanda vital
4.Pena
Prosedur kerja
Cara palpasi
1. Jelaskan prosedur pada klien.
2. cuci tangan.
3. Atur posisi pasien (manusia coba).
4. Letakkan Lengan yang hendak diukur pada posisi telentang.
5.Lengan baju di buka.
6.Pasang manset pada lengan kanan/kiri atas sekitar 3 cm di atas fossa
    Cubiti (jangan terlalu ketat maupun terlalu longgar).
7. Tentukan denyut nadi arteri radialis dekstra/sinistra
8. Pompa balon udara manset sampai denyut nadi arteri radialis tidak
     Teraba
9. Pompa terus sampai manometer setinggi 20 mm Hg lebih tinggi dari
     Titik radialis tidak teraba.
10.Letakkan diafragma stetoskop di atas nadi brakhialis dan kempeskan  
      Balon udara manset secara perlahan dan berkesinambungan dengan
      Memutar sekrup pada pompa udara berlawanan arah jarum jam.
11. Catat mm Hg manometer saat pertama kali denyut nadi teraba
       Kembali. Nilai ini menunjukkan tekanan sistolik secara palpasi.
12. Catat hasil.
13. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.
CARA AUSKULTASI
1. Jelaskan prosedur pada klien
2. Cuci tangan.
3. Atur posisi pasien (manusia coba)
4. Letakkan Lengan yang hendak diukur dalam posisi telentang.
5. Buka lengan baju.
6. Pasang manset pada lengan kanan/kiri atas sekitar 3 cm di atas fossa
     Cubiti (jangan terlalu ketat maupun terlalu longgar).
7. Tentukkan denyut nadi arteri radialis dekstra/sinistra.
8. Pompa balon udara manset sampai denyut nadi arteri radialis tidak
     Teraba.
9. Pompa terus sampai manometer setinggi 20 mm Hg dari titik radialis
     Tidak teraba.
10. Letakkan diafragma stetoskop diatas arteri brakhialis dan dengarkan
11. Kempeskan balon udara manset secara perlahan dan
       Berkesinambungan dengan memutar sekrup pada pompa udara berlawanan arah jarum jam.
   12. Catat tinggi air raksa manometer saat pertama kali terdengar
          Kembali denyut.
   13. Catat tinggi air raksa pada manometer:
          Suara Korotkoff I: menunjukkan besarnya tekanan sistolik secara
          Auskultasi.
          Suara Korotkoff menunjukkan besarnya tekanan diastolik secara
          Auskultasi.
  14. Catat hasilnya pada catatan pasien.
  15. Cici tangan setelah prosedur dilakukan  







Daftar Pustaka: Carroli G, Rooney C, Villar  J, How effective is Antenatal care in preventing maternal mortality and serious morbidity?  An overview of the evidence. Paediart perinat Epidemol 2001; 15 (Suppl. 1): 1-42.

 

Artikel Keperawatan © 2010 Web Design by Ipietoon Blogger Template and Home Design and Decor